Subscribe:

Ads 468x60px

Pages

Tampilkan postingan dengan label Imunisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imunisasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

BANYAK BAYI MENINGGAL KARENA IMUNISASI, TANYA KENAPA?!

Dua Balita Meninggal Sehabis Imunisasi
REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI – Diduga akibat kesalahan prosedur imunisasi, dua balita di Perum Wisma Asri, Bekasi Utara, Kota Bekasi, meninggal dunia. Peristiwa tersebut terjadi sepekan setelah menjalani imunisasi campak dan polio yang digelar di seluruh wilayah Indonesia.
Salah satu korban yang meninggal dunia bernama Hanif M Husnaya (3), putra kedua pasangan Awal Adiguna dan Eva. Juga, Isma Nur Fauziah (3), putri pasangan Tian Setiani dan Nana Setiana. Para orang tua korban sejauh ini belum mendapat kejelasan dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi terkait meninggalnya sang buah hati pasca imunisasi.
Ny Sigit (47), nenek Hanif mengatakan, sebelum meninggal, cucu keduanya itu dibawa ke Posyandu Kebalen, Kabupaten Bekasi, untuk divaksinasi polio dan campak.
“Awalnya, anak saya—orang tua Hanif—sempat keberatan jika Hanif divaksinasi. Namun, petugas Posyandu memaksa supaya Hanif divaksinasi karena itu program pemerintah,” tutur Ny Sigit, ketika ditemui, Kamis (3/11).
Sehabis divaksinasi, Hanif pulang dan istirahat. Sorenya, bocah itu terbangun dan muntah-muntah disertai buang air besar yang tiada henti. “Kami pikir awalnya hanya masuk angin biasa. Namun, keesokan harinya Hanif demam tinggi hingga suhu tubuhnya mencapai 42 derajat Celcius,” kata Ny Sigit.
Kedua orang tua Hanif panik dan memberikan obat penurun panas yang biasa diminum Hanif jika terserang demam. Mereka pun langsung membawa putranya ke dokter terdekat, sebelum akhirnya dirawat di Rumah Sakit Mekar Sari, Kota Bekasi.
Saat menjalani perawatan, demam Hanif tak kunjung reda dan justru malah mengalami kejang-kejang hingga akhirnya meninggal dunia pada Jumat (21/10) dini hari. “Semuanya berlangsung sangat cepat,” kata Ny Sigit sedih.
Selang beberapa hari kemudian, kabar serupa datang dari orang tua Isma, yang kediamannya tak jauh dari rumah Ny Sigit. Isma meninggal diduga karena mengalami gejala yang sama. Namun, balita itu menjalani vaksinasi polio dan campak di Posyandu yang berbeda. Anak bungsu dari dua bersaudara itu juga datang menjalani imunisasi dengan kondisi yang sehat.
Sebelum menghembuskan nafasnya, Isma mengalami demam yang membuat sekujur tubuhnya panas. Ketika itu, Tian—ibu Isma—memberikan obat penurun panas dari Posyandu tempat Isma diimunisasi. “Namun, obat itu tak mempan menurunkan demam. Demamnya malah semakin tinggi,” tutur Tian kepada wartawan.
Kondisi tubuh Isma pun semakin menurun karena timbul batuk yang tak kunjung henti. Tian pun membawa Isma ke dokter langganan esok harinya. Seketika demam Isma menurun dari 42 ke 38 derajat Celcius. Akan tetapi kondisi itu tak bertahan lama, balita putri itu mendadak kejang. Merasa panik, kedua orang tua Isma membawa ke Rumah Sakit Anna Medika guna dirawat secara intensif.
Penanganan di rumah sakit itu pun lambat. Menurut Tian, putrinya sempat tak diacuhkan di ruang gawat darurat karena harus melewati prosedur pembayaran deposito sekitar Rp 5 juta. Menjelang malam, Isma mengalami kejang yang kedua kalinya. “Isma dipindahkan ke ruang ICU. Dokter hanya menangani selama 15 menit, setelah itu Isma pun tak tertolong,” ujar dia.
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Muhammad Ghufron
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/regional/jabodetabek/11/11/03/lu34nd-dua-balita-meninggal-sehabis-imunisasi

NFOWONOGIRI.COM-JATISRONO-Bayi bernama Jufri Fadil Akbar tidak berumur panjang. Anak pasangan Yatman (25) dan Tri Nurjanah (23) warga Dusun/Desa Jatisrono RT 03 RW I Kecamatan Jatisrono, Wonogiri itu meninggal dunia beberapa saat setelah diimunisasi oleh petugas medis Posyandu Kecamatan Jatisrono, Rabu (2/11) kemarin.
Bayi yang dilahirkan pada tanggal 17 Oktober lalu itu meninggal dunia sekira pukul 11.30 di rumahnya. Sebelum Jufri diimunisasikan sekitar pukul 08.30 di Puskesmas setempat. Kadus Dusun Jatisrono, Sukir melaporkan bayi tersebut merupakan anak pertama dari pasangan rumah tangga muda ini. Ibunya masih berstatus mahasiswa, sedangkan suaminya bekerja di Jakarta.
Sejatinya, sebelum diimunisasikan bayi tersebut dalam keadaan sehat dan normal. Sesuai aturan kesehatan, bayi tersebut harus diimunisasikan dengan dua tetes polio. “Setelah diimuniasikan, bayinya langsung dibawa pulang. Sampai rumah bayinya tertidur. Sekitar pukul 11.00 bayinya sudah dalam keadaan lemas, langsung dibawa Puskesmas, tapi tidak tertolong,” ujar.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri, dr. H. Widodo. MKes membenarkan ada kejadian tersebut. Kronologisnya, memang bayi tersebut baru saja diimunisasi. Lalu dibawa pulang diminumi dan tertidur. Saat terbangun dari tidur, bayi tersebut tersedak (istilah medis aspirasi). Lalu mengalami lemas badan dan meninggal dunia.
“Bayi itu sempat dibawa ke Puskesmas, tapi sampai di Puskesmasn sudah tidak bernafas,” tutur dr. Widodo. Widodo meyakinkan, bahwa bayi tersebut meninggal bukan karena penyebab imunisasi. Tetapi dalam istilah medis, disebut sebagai KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi). Atau bahasa gampangnya ada kasus yang menyertainya.
Setelah mendapatkan laporan tersebut, tim DKK langsung turun tangan melakukan penelitian dan pemeriksaan medis. Hasilnya ditemukan fakta, bahwa bayi tersebut setelah diimunisasi disusui lalu bayinya tertidur. Buktinya dari hidungnya keluar cairan putih, yang dipastikan cairan air susu ibu (ASI). Itu mendandakan bayi tersebut telah tersedak (keselak, Bahasa jawa).
Kesimpulan pemeriksaan tim kemudian disampaikan kepada keluarganya. Kedua orang tua bayi dan keluarganya bisa menerima penjelasan pihak tim DKK. Selanjutnya, Rabu sore kemarin jenazah bayi tersebut akhirnya dimakamkan. “Pendekatan persuasif secara medis dan kekeluargaan bisa diterima keluarganya. Orang tuanya bisa menerimanya,” pungkas Widodo.
Widodo menyarankan, paska kejadian tersebut, siapapun orang tua yang memiliki bayi dibawah satu tahun –utamanya-, agar berhati-hati setelah memberinya minum baik ASI maupun minuman yang lainnya. Agar aman setelah bayi minum ASI agar tidak langsung direbahkan/ditidurkan. Sebab setelah minum kenyang jika ditidurkan rawan terjadi kesedak/tersedak yang bisa mengakibatkan tersumbatnya saluran pernapasan, atau sering disebut gagal nafas. (bagus@infowonogiri.com)
Pertanyaan saya :
1, wong sudah jelas-jelas diimunisasi kejadiannya. Tak sampai 2 hari meninggal? kalau sudah begini siapa yang bertanggung jawab? mereka tenaga medis pasti akan mencari argumen lain yang masuk akal
2, ketemu argumen, tersedak!!!. padahal sebelum diimunisasi banyak bayi yang sehabis disusui ASI, ada juga yang tersedak tapi tak apa-apa. Kalau tersedak sih biasa bagi bayi, wong bayi kok. Ada jutaan bayi yang mangalami tersedak dalam hidupnya tapi biasa aja, nga mati. Cuma masalahnya cuma satu, abis diimunisasi aja.

Senin, 17 Oktober 2011

Mengungkap Konspirasi Imunisasi dan Bahaya Vaksin (bag. 2)

Mengapa vaksin gagal melindungi terhadap penyakit?
Walene James, pengarang buku Immunization: the Reality Behind The Myth, mengatakan respon inflamatori penuh diperlukan untuk menciptakan kekebalan nyata.

Sebelum introduksi vaksin cacar dan gondok, kasus cacar dan gondok yang menimpa anak-anak adalah kasus tidak berbahaya. Vaksin “mengecoh” tubuh sehingga tubuh kita tidak menghasilkan respon inflamatory terhadap virus yang diinjeksi.

SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) naik dari 0.55 per 1000 orang di 1953 menjadi 12.8 per 1000 pada 1992 di Olmstead County, Minnesota. Puncak kejadian SIDS adalah umur 2 – 4 bulan, waktu di mana vaksin mulai diberikan kepada bayi. 85% kasus SIDS terjadi di 6 bulan pertama bayi. Persentase kasus SIDS telah naik dari 2.5 per 1000 menjadi 17.9 per 1000 dari 1953 sampai 1992. Naikan kematian akibat SIDS meningkat pada saat hampir semua penyakit anak-anak menurun karena perbaikan sanitasi dan kemajuan medikal kecuali SIDS.

Kasus kematian SIDS meningkat pada saat jumlah vaksin yang diberikan kepada balita naik secara meyakinkan menjadi 36 per anak.

Dr. W. Torch berhasil mendokumentasikan 12 kasus kematian pada anak-anak yang terjadi dalam 3,5 – 19 jam paska imunisasi DPT. Dia kemudian juga melaporkan 11 kasus kematian SIDS dan satu yang hampir mati 24 jam paska injeksi DPT. Saat dia mempelajari 70 kasus kematian SIDS, 2/3 korban adalah mereka yang baru divaksinasi mulai dari 1,5 hari sampai 3 minggu sebelumnya.
Tidak ada satu kematian pun yang dihubungkan dengan vaksin. Vaksin dianggap hal yang mulia dan tidak ada pemberitaan negatif apapun mengenai mereka di media utama karena mereka begitu menguntungkan bagi perusahaan farmasi.

Ada alasan yang valid untuk percaya bahwa vaksin bukan saja tak berguna dalam mencegah penyakit, tetapi mereka juga kontraproduktif karena melukai sistem kekebalan yang meningkatkan resiko kanker, penyakit kekebalan tubuh, dan SIDS yang menyebabkan cacat dan kematian.

Lalu adakah imunisasi yang benar menurut Islam?
Ada! Bahkan Rasulullah sendiri yang mengajarkan dan merekomendasikannya. Imam Bukhari dalam Shahih-nya men-takhrij hadits dari Asma’ binti Abi Bakr

“Dari Asma’ binti Abu Bakr bahwa dirinya ketika sedang mengandung Abdullah ibn Zubair di Mekah mengatakan, “Saya keluar dan aku sempurna hamilku 9 bulan, lalu aku datang ke madinah, aku turun di Quba’ dan aku melahirkan di sana, lalu aku pun mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, maka beliau Shalallaahu alaihi wasalam menaruh Abdullah ibn Zubair di dalam kamarnya, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam meminta kurma lalu mengunyahnya, kemudian beliau Shalallaahu alaihi wasalam memasukkan kurma yang sudah lumat itu ke dalam mulut Abdullah ibn Zubair. Dan itu adalah makanan yang pertama kali masuk ke mulutnya melalui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, kemudian beliau men-tahnik-nya, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam pun mendo’akannya dan mendoakan keberkahan kepadanya.”

Dalam shahihain -Shahih Bukhari dan Muslim- dari Abu Musa Al-Asy’ariy, “Anakku lahir, lalu aku membawa dan mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam memberinya nama Ibrahim dan kemudian men-tahnik-nya dengan kurma.” dalam riwayat Imam Bukhari ada tambahan: “maka beliau SAW mendoakan kebaikan dan memdoakan keberkahan baginya, lalu menyerahkan kembali kepadaku.”

Bayi dilahirkan dalam keadaan kekurangan glukosa. Bahkan apabila tubuhnya menguning, maka bayi tersebut dipastikan membutuhkan glukosa dalam keadaan yang cukup untuknya. Bobot bayi saat lahir juga mempengaruhi kandungan glukosa dalam tubuhnya.

Pada kasus bayi prematur yang beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kandungan zat gulanya sangat kecil sekali, dimana pada sebagian kasus malah kurang dari 20 mg/100 ml darah. Adapun anak yang lahir dengan berat badan di atas 2,5 kg maka kadar gula dalam darahnya biasanya di atas 30 mg/100 ml. Kadar semacam ini berarti (20 atau 30 mg/100 ml darah) merupakan keadaan bahaya dalam ukuran kadar gula dalam darah.

Hal ini bisa menyebabkan terjadinya berbagai penyakit, seperti bayi menolak untuk menyusui, otot-otot bayi melemas, aktivitas pernafasan terganggu dan kulit bayi menjadi kebiruan, kontraksi atau kejang-kejang.

Terkadang bisa juga menyebabkan sejumlah penyakit yang berbahaya dan lama, seperti insomnia, lemah otak, gangguan syaraf, gangguan pendengaran, penglihatan, atau keduanya. Apabila hal-hal di atas tidak segera ditanggulangi atau diobati maka bisa menyebabkan kematian. Padahal obat untuk itu adalah sangat mudah, yaitu memberikan zat gula yang berbentuk glukosa melalui infus, baik lewat mulut, maupun pembuluh darah.

Mayoritas atau bahkan semua bayi membutuhkan zat gula dalam bentuk glukosa seketika setelah lahir, maka memberikan kurma yang sudah dilumat bisa menjauhkan sang bayi dari kekurangan kadar gula yang berlipat-lipat. Disunnahkannya tahnik kepada bayi adalah obat sekaligus tindakan preventif yang memiliki fungsi penting, dan ini adalah mukjizat kenabian Muhammad SAW secara medis dimana sejarah kemanusiaan tidak pernah mengetahui hal itu sebelumnya, bahkan kini manusia tahu bahayanya kekurangan kadar glukosa dalam darah bayi.

Tahnik sebaiknya dilakukan oleh orang-orang yang beriman kepada Allah, atau dapat pula dilakukan ayah atau ibu sang bayi. Saya pribadi, dengan berbagai pengalaman seputar madu yang sungguh ajaib, percaya bahwa madu sangat aman dikonsumsi oleh berbagai kalangan, meski ia bayi sekalipun. Justru ia berperan sebagai pengganti imunisasi yang sampai saat ini sangat diragukan kehalalannya.

Karena khasiat madu sendiri telah disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:
“Dari perut lebah itu keluar cairan dengan berbagai warna, di dalamnya terdapat kesembuhan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)

Tidak ada pengecualian untuk bayi dalam tafsir ataupun hadits yang menjelaskannya. Jangan sampai penerapan ASI Ekslusif ini menjadi penghalang bagi orang tua untuk mentahnik bayinya dengan kurma karena ini adalah sunnah yang tsabit, sebisa mungkin kita berusaha menerapkan sunnah-sunnah yang ada untuk bayi kita yang baru lahir. Dan sunnah Rosululloh itu lebih utama untuk kita laksanakan, walaupun mungkin ada sebagian dokter atau kalangan medis melarang hal tersebut dengan berbagai alasan karena belum tahu tentang hikmahnya.

Jalan amannya, berikan untuk bayi dan balita hanya yang refined dan purified with no additive (sudah dibersihkan dan dimurnikan/MADU ASLI). Dan karena madu itu bersifat panas, campurkan madu dengan air sebelum memberikannya pada bayi.

Penutup
Imunisasi yang selama ini digembar-gemborkan oleh Zionis dapat berdampak kepada masalah yang sangat serius bagi kehidupan penduduk dunia. Mereka yang bertujuan untuk menjadikan ras lainnya berada di bawah kekuasaan mereka dengan berbagai cara.

Jerry D. Gray, penulis buku Deadly Mist, seorang pria kelahiran Jerman, yang tumbuh dan besar di Amerika Serikat, seorang mualaf yang beberapa tahun terakhir tinggal di Indonesia, menyarankan agar kita tidak percaya dan mengikuti program – program dari pemerintah AS dan WHO. Seperti program vaksinasi dan lain – lain. Karena tidak ada vaksin yang menjamin 100% kebal terhadap penyakit tertentu. Justru setelah pemberian vaksin, tubuh menjadi demam, dan lemah. Hal ini memudahkan terjangkitnya penyakit lain. Menurut Jerry, puluhan ribu dokter di AS tidak mau memberikan vaksin kepada anak – anak mereka.

Jerry juga mengajak untuk lebih banyak menggunakan produk obat herbal islami dan alami. Ia menjelaskan tentang pengalaman pribadinya dalam penggunaan obat islami untuk mengatasi masalah dan menjaga kesehatan diri dan keluarganya. Produk obat islami yang selalu ada di rumahnya adalah madu, habbatussauda (baik yang berbentuk serbuk atau minyak), dan juga minyak zaitun. Obat – obat ini dijelaskan dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah SAW. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda bahwa jintan hitam (habbatussauda) merupakan penyembuh bagi segala penyakit, kecuali maut.

Sudah cukup banyak yang menjadi korban konspirasi imunisasi ini. Kini saatnya kita membuka mata dan bertanya pada hati nurani kita dengan berbagai propaganda yang mereka lakukan.
Bahkan Allah telah menyuruh kita berhati-hati terdadap berita dari mereka :
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”(Qur’an surah Al-Hujuraat (49) : 6)

Terbatasnya akses dan sarana informasi tentang Halal Haram & bahaya tersembunyi dalam makanan, obat, kosmetik & bahan konsumsi lainnya yang sangat dibutuhkan masyarakat, menjadikan ummat Islam selama bertahun-tahun, bahkan berpuluh tahun, secara sadar, tak sadar atau sengaja menidaksadarkan diri --karena enak-- tidak lagi memperhatikan HALAL HARAM zat yang masuk ke tubuh.

Karenanya, menjadi kewajiban bagi kita semua sebagai ummat pengikut Rasulullah saw utk menyampaikan dan menyebarluaskan informasi-informasi penting ini. Sampaikanlah walau satu ayat.

InsyaAllah tim kami dalam KOMUNITAS PEDULI PRODUK HALAL dan M-CARE Centre siap untuk terus bergerak dan memberikan pencerahan. Memberikan Informasi dan Wawasan tentang HALAL HARAM, ZAT ADITIF, hingga POLA HIDUP SEHAT a la sunnah Rasulullah yang mulai terlupakan, Kesehatan Islam melalui ATH-THIBBUN NABAWI.

Subhanallah, kegiatan kami melalui Safari Dakwah Halal Haram mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Banyak masyarakat yang belum tahu & belum menyadari bahaya dari atas meja makan. Jika informasi ini disampaikan & disebarluaskan, insyaAllah ummat & kehidupan akan terselamatkan.

Lebih dari sekadar informasi, ini adalah pondasi sebuah pemahaman.
Lebih dari upaya merangkai usaha, ini adalah salah satu ikhtiar untuk menghadirkan Solusi Hidup Sehat Sejahtera bagi masyarakat.

Lebih dari sekadar berbagi gagasan, ini adalah menjadi sebuah penghayatan tentang urgennya menjadi pribadi & keluarga sehat sejahtera.

Karena itulah.....
Untuk menjadi yang TERBAIK bagi Keluarga,
Untuk melahirkan ketulusan mendampingi yang tercinta,
Untuk memberikan perhatian kesehatan dan kesejahteraan bagi keluarga.

Jika ada ikhwati fillah, sahabat dan teman2 sekalian yang ingin mengundang kami, insyaAllah kami siap hadir kemanapun dan di manapun.
Hubungi M-CARE Centre 085719936515.

Mari Bersatu Selamatkan Ummat dan Kehidupan.
Bergerak dan memulai dari yang kecil sekarang....
Semoga jadi hari-hari yang penuh arti.
Sebaik-baik insan adalah yg paling beri manfaat & menebar selamat sepanjang hayat.

~ M-Care Learning Centre ~

Mengungkap Konspirasi Imunisasi dan Bahaya Vaksin (bag. 1)

Jika kita merunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, kita dapat menemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga RockefellerRockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionisme InternasionalDan kenyataannya, mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya :
The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948 the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS). ~ Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO Issues H1N1 Swine Flu Propaganda”

Dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi modern (atau kita menyebutnya imunisasi) adalah salah satu campur tangan (Baca : konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperbudak seluruh dunia dalam “New World Order” mereka.

Apa Kata Para Ilmuwan Tentang Vaksinasi?
  • Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”
    ~ Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika
  • Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”
    ~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University
  • Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”
    ~ Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris
  • Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum”.
    ~ dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional
  • Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”
    ~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962
  • Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan kasus autisme.”
    ~ Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional
  • Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.”
    ~ Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika
  • Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” ~ Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth”

Dan masih banyak lagi pendapat ilmuwan yang lainnya.
Dan ternyata faktanya di Jerman para praktisi medis, mulai dokter hingga perawat, menolak adanya imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Suspectible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa jumlah partisipan terendah dalam imunisasi campak terjadi di kalangan praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi pada para pakar obstetrik, dan kadar terendah lain terjadi pada para pakar pediatrik. Kurang lebih 90% pakar obstetrik dan 66% parak pediatrik menolak suntikan vaksin rubella.

Lalu mengapa bisa hal itu terjadi? Apa rahasia di balik vaksin dan imunisasi?
Menurut penelitian saya tentang imunisasi yang telah saya lakukan sejak beberapa tahun lalu. Saya berusaha mengaitkannya dengan metode ilmu genetik dalam Islam yang sedikit telah saya pahami.Vaksin yang telah diproduksi dan dikirim ke berbagai tempat di belahan bumi ini (terutama negara muslim, negara dunia ketiga, dan negara berkembang), adalah sebuah proyek untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara-negara tersebut.

Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita tidak ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tahu bahwa vaksin didapat dari darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan penyakit tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA sang inang dari tempat virus dibiakkan tersebut.

Pernahkah anda berpikir apabila DNA orang asing ini tercampur dengan bayi yang masih dalam keadaan suci? DNA adalah berisi cetak biru atau rangkuman genetik leluhur-leluhur kita yang akan kita warisi. Termasuk sifat, watak, dan sejarah penyakitnya.

Lalu apa jadinya apabila DNA orang yang tidak kita tahu asal usul dan wataknya bila tercampur dengan bayi yang masih suci? Tentunya bayi tersebut akan mewarisi genetik DNA sang inang vaksin tersebut. Pernahkan anda terpikir apabila sang inang vaksin tersebut dipilih dari orang-orang yang terbuang, kriminal, pembunuh, pemerkosa, peminum alkohol, dan sebagainya?

Dari banyak sumber yang saya dengar selama ini, penelitian tentang virus dilakukan kepada para narapidana untuk menghemat biaya penelitian, atau malah mungkin hal itu disengaja?

Zat-zat kimia berbahaya dalam vaksin.
Vaksin mengandung substansi berbahaya yang diperlukan untuk mencegah infeksi dan meningkatkan performa vaksin. Seperti merkuri, formaldehyde, dan aluminium, yang dapat membawa efek jangka panjang seperti keterbelakangan mental, autisme, hiperaktif. alzheimer, kemandulan, dll. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah anak autis meningkat dari antara 200 – 500 % di setiap negara bagian di Amerika.

Dr.William Howard dari USA
“Tubuh telah memiliki metodenya sendiri untuk mempertahankan, yang tergantung pada vitalitas tubuh pada saat tertentu. Jika vitalitas cukup, maka tubuh akan bertahan terhadap seluruh infeksi dan sebaliknya. Sesungguhnya kita tidak dapat mengubah vitalitas tubuh menjadi lebih baik apalagi memakai bahan racun (vaksin) “
Jurnal  Majalah Halal No. 64/x/2006

Bencana akibat vaksin yang tidak pernah dipublikasikan.
  • Di Amerika pada tahun 1991 – 1994 sebanyak 38.787 masalah kesehatan dilaporkan kepada Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA. Dari jumlah ini 45% terjadi pada hari vaksinasi, 20% pada hari berikutnya dan 93% dalam waktu 2 mgg setelah vaksinasi. Kematian biasanya terjadi di kalangan anak anak usia 1-3 bulan.
  • Pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di Kansas dan 90% penderita adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan sejenis juga terjadi di Nova Scotia di mana pertusis telah muncul sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal.
  • Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939. Jumlah kasus dipteri naik menjadi 150.000 kasus, di mana pada tahun yang sama, Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi, kasus dipterinya hanya sebanyak 50 kasus.
  • Penularan polio dalam skala besar, menyerang anak-anak di Nigeria Utara berpenduduk muslim. Hal itu terjadi setelah diberikan vaksinasi polio, sumbangan AS untuk penduduk muslim. Beberapa pemimpin Islam lokal menuduh Pemerintah Federal Nigeria menjadi bagian dari pelaksanaan rencana Amerika untuk menghabiskan orang-orang Muslim dengan menggunakan vaksin.
  • Tahun 1989-1991 vaksin campak ”high titre” buatan Yugoslavia Edmonton-Zagreb diuji coba pada 1500 anak-anak miskin keturunan orang hitam dan latin, di kota Los Angeles, Meksiko, Haiti dan Afrika. Vaksin tersebut sangat direkomendasikan oleh WHO. Program dihentikan setelah di dapati banyak anak-anak meninggal dunia dalam jumlah yang besar.
  • Vaksin campak menyebabkan penindasan terhadap sistem kekebalan tubuh anak-anak dalam waktu panjang selama 6 bulan sampai 3 tahun. Akibatnya anak-anak yang diberi vaksin mengalami penurunan kekebalan tubuh dan meninggal dunia dalam jumlah besar dari penyakit-penyakit lainnya WHO kemudian menarik vaksin-vaksin tersebut dari pasar di tahun 1992.
  • Setiap program vaksin dari WHO di laksanakan di Afrika dan Negara-negara dunia ketiga lainnya, hampir selalu terdapat penjangkitan penyakit-penyakit berbahaya di lokasi program vaksin dilakukan. Virus HIV penyebab Aids di perkenalkan lewat program WHO melalui komunitas homoseksual melalui vaksin hepatitis dan masuk ke Afrika tengah melalui vaksin cacar.
  • Desember 2002, Menteri Kesehatan Amerika, Tommy G. Thompson menyatakan, tidak merencanakan memberi suntikan vaksin cacar. Dia juga merekomendasikan kepada anggota kabinet lainnya untuk tidak meminta pelaksaanaan vaksin itu. Sejak vaksinasi massal diterapkan pada jutaan bayi, banyak dilaporkan berbagai gangguan serius pada otak, jantung, sistem metabolisme, dan gangguan lain mulai mengisi halaman-halaman jurnal kesehatan.
  • Kenyataannya vaksin untuk janin telah digunakan untuk memasukan encephalomyelitis, dengan indikasi terjadi pembengkakan otak dan pendarahan di dalam. Bart Classen, seorang dokter dari Maryland, menerbitkan data yang memperlihatkan bahwa tingkat penyakit diabetes berkembang secara signifikan di Selandia Baru, setelah vaksin hepatitis B diberikan secara massal di kalangan anak-anak.
  • Melaporkan bahwa, vaksin meningococcal merupakan ”Bom waktu bagi kesehatan penerima vaksin.
  • Anak-anak di Amerika Serikat mendapatkan vaksin yang berpotensi membahayakan dan dapat menyebabkan kerusakan permanen. Berbagai macam imunisasi misalnya, Vaksin-vaksin seperti Hepatitis B, DPT, Polio, MMR, Varicela (Cacar air) terbukti telah banyak memakan korban anak-anak Amerika sendiri, mereka menderita kelainan syaraf, anak-anak cacat, diabetes, autis, autoimun dan lain-lain.
  • Vaksin cacar dipercayai bisa memberikan imunisasi kepada masyarakat terhadap cacar. Pada saat vaksin ini diluncurkan, sebenarnya kasus cacar sudah sedang menurun. Jepang mewajibkan suntikan vaksin pada 1872. Pada 1892, ada 165.774 kasus cacar dengan 29.979 berakhir dengan kematian walaupun adanya program vaksin.
  • Pemaksaan vaksin cacar, di mana orang yang menolak bisa diperkarakan secara hukum, dilakukan di Inggris tahun 1867. Dalam 4 tahun, 97.5& masyarakat usia 2 sampai 50 tahun telah divaksinasi. Setahun kemudian Inggris merasakan epidemik cacar terburuknya dalam sejarah dengan 44.840 kematian. Antara 1871 – 1880 kasus cacar naik dari 28 menjadi 46 per 100.000 orang. Vaksin cacar tidak berhasil.
  • Dan masih banyak lagi.
(bersambung....)

Sabtu, 15 Oktober 2011

Imunisasi Siasat Yahudi Lumpuhkan Generasi Muslim

Imunisasi Siasat Yahudi Lumpuhkan Generasi Muslim

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah melimpahkan rahmat Nya kepada kita sekalian untuk tetap melangkah di jalan Islam.  Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rosulullah Muhammad SAW, manusia pilihan sebagai pembawa risalah kebenaran.

Uraian yang akan saya ungkap dalam tulisan ini adalah tentang sinopsis sebuah majalah “Tabloid Bekam” yang terbit pada edisi 4 tahun pertama (2010). Pada edisi tersebut di bahas mengenai masalah imunisasi yang saat ini semakin genjar di galakkan oleh pemerintah sebagai salah satu program kesehatan di Indonesia.

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, marilah kita awali lisan ini untuk mengucapkan kalimat “أعوذ بالله من الشيطان الرجيم . بسـم الله الرحمن الرحـيم”. Harapannya agar hati ini terhindar dari keragu-raguan untuk melangkah setelah mambaca ulasan dari sinopsis yang akan saya tulis. Karena keragu-raguan dalam hati adalah bersumber dari syaitan.
***

Dalam edisi ini “Tabloid Bekam ” menampilkan bahasan utama dengan judul “Imunisasi Siasat Yahudi Lumpuhkan Generasi?”

Bila bibit penyakit penderita TBC, Hepatitis, Meningitis, HIV, Campak, Volio atau penyakit lainnya yang menyerang di tubuh seseorang di ambil, baik berupa bakteri, virus, lantas diolah sedemikian rupa entahh dengan istilah dilemahkan atau dilumpuhkan, kwmudian binit penyakit tersebut diperbanyak lalu disuntikkan ke tubuh anda atau anak anda!

Apakah dengan senang hati anda  menerimanya? Aksi memasukkan bibit penyakit inilah yang akrab disebut vaksinasi atau imunisasi.

Mungkinkah tindakan ini bisa meningkatkan daya tahan tubuh bayi, anak-anak atau orang dewasa sekalipun.
Sebuah tangis pecah saat sang bayi mungil di tusuk dengan sebuah jarun injeksi untuk dimasukkan sesuatu dalam tubuhnya. Dia hanya menangis tak bisa menolak bahkan lari dari suntikkan tersebut. Dia begitu pasrah dengan tindakkan orang tuanya yang memilih jalan untuk mengimunisasi buah hati mereka.

Apakah kita selalu diam saat tubuh mungil yang selalu kita timang dimasukkan beragam racun yang kemudian akan merayap di seluruh pembuluh darah dan bersarang di organ-organ tubuh mereka? Orang tua yang sehat dan arif tentu akan menolak keras bahkan menentangnya bila hal itu terjadi.

Adakah orang akan sehat setelah dimasukkan beragam racun dalam tubuhnya, bahkan racun-racun tersebut ternyata adalah virus dan bakteripenyakit berbahaya? Atau racun itu dapat berupa khamr (minuman memabukkan), nuklir, bom atom, sabun cuci, pembersih lantai, baterei, pewarna (cat) dan bahan berbahaya lainnya? Bahkan racun-racun tersebut bersala dari bangkai babi, bangkai darah dan nanah?! Mari kita renungkan..

Sejarah Vaksin
Menelaah sejarah vaksin membuat hati menjadi geram, karena kita akan tahu betapa keji perbuatan-perbuatan mereka yaitu kalangan Yahudi untuk menguasai dunia dengan cara menyebarkan racun/ kuman pembunuh untuk ras lain terutama kaum muslim.

Pada abad 18 vaksin telah digunakan untuk memusnahkan suku Indian yang dilakukan oleh kaum zionis dengan pimpinan Jendral Jeffrer Amherst, dengan cara menyebar kuman dan penyakit yang disisipkan dalam selimut dan handuk yang dibagikann ke suku tersebut.

Kemudian pada abad 19 serum berbahay tersebut dijadikan amunisi sebagai senjata biologis dalam pperangan bahkan untuk pembunuhan secara massal. Yang akibatnya dapat menyerang dan menghancurkan otak dan system syaraf pusat.

Dan di abad 20 ini, vaksin telah dikelolah secara modern oleh Flexner Brothers, dan didanai oleh Keluarga Rockefeller dan dia adalah salah satu keluarga Yahudi yang berpengaruh di dunia. Dan merupakan bagian dari Zionisme Internasional yang memprakarsai pendirisn WHO dan lembaga dunia lainnya.

Pendeknya dari data historis vaksinasi dijadikan program zionisme internasional dalam rangka menggapai misi “new world order” (tatanan dunia baru) untuk melestarikan kekuasaan Yahudi. Program vaksin merupakan misi pengendalian penduduk yang dengan program ini mereka meraup dua keuntungan sekaligus, yakni penduduk terkendali dan menuai keuntungan yang besar.

Artinya boleh jadi niat busuk Yahudi senada dengan teori, bila ingin senjata laku maka ciptakan perang. Begitu juga dalam masalah ini, mereka beranjak dari teori bila ‘obat’ (produk farmasi) ingin laku dan membuat orang lain menderita, ciptakan penyakit. Dengan strategi pembodohan ini Yahudi berusaha bangsa lain menderita sambil menguras isi kantongnya dengan alasan kesehatan.
Logo Biofarma yang baru, terdapat gambar Bintang David (logo zionis) di dalamnya, ada apa?


Persoalan Vaksin (Cara Membuat Vaksin)
Penggunaan barang haram dalam pembuatan vaksin telah diakui oleh produsen vaksin terbesar di tanah air yaitu Biofarma. Seperti pernah diungkapkan Drs.Iskasdar, Apt; M.M ketika menjabat Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Biofarma kepada Hidayatullah.com beberapa waktu silam. Dia menjelaskan bahwa enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV). SElain itu vaksin juga menggunakn media biakan virus yang berasal dari jaringan ginjal kera (sel vero), sel dari ginjal anjing, dan dari retina mata manusia.

Sementara menurut Kepala Diviai PT. Biofarma, Drs. Dori Ugiyadi mengatakan, ketiga sel kultur tersebut dipakai untuk pengembangan vaksin influenza. “di Biofarma, kita menggunakan sel ginjal monyet untuk produksi vaksin polio. Kemudian sel embrio ayam untuk produksi vaksin campak.” Ujar Dori seraya menambahkan secara produksi vaksin masih menggunakan berbagai macam sel yang berasal dari hewan maupun manusia.

Bahan Vaksin
Ummu Salamah mengurai bahan utama vaksin adalah kuman virus atau bakteri hidup atau mati, toksoid atau DNA dengan tambahan bahan tertentu, manjalankan berbagai fungsi dan biakan pembuatan vaksin.

Bahan-bahan vaksin tersebut antara lain:
Alumunium. Logam ini ditambahkan kepada vaksin dalam bentuk gel atau garam untuk mendorong produksi anti bodi. Logam ini dikenal sebagai kemungkinan penyebab kejang, penyakit alizheimer, kerusakan otak dan dementia (pikun). Menurut Persatuan Pemerhati Vaksin Australia bahan ini dapat meracuni darah, syaraf pernafasan, mengganggu sistem imun dan syaraf seumur hidup. Alumunium digunakan pada vaksin DPT(Difteri, Pertusis, Tetanus), Dapt dan Hepatitis B.
Benzetonium Klorida, yaitu bahan pengawet yang belum dievaluasi untuk konsumsi menusia dan banyak digunakan untuk vaksin anthrax.
Etilen Glikol merupakan bahan utama anti beku yang digunakan pada beberapa vaksin yaitu Dapt, polio, hepatitis B sebagai bahan pengawet.
Formaldehida / Formalin. Bahan ini menimbulkan kekhawatiran besar karena dikenal sebagai karsinogen (zat pencetus kenker). Bahan ini dikenal untuk penggunaan pembalseman, fungisida, insektisida dalam pembuatan bahan peledak dan kain. Bahan ini dapat ditemukan pada beberapa vaksin.
Gelatin adalah bahan yang dikenal sebagai allergen (bahan pemicu alergi). Bahan ini ditemukan pada vaksin cacar air dan MMR (Measles/ campak, Mumps/ gondong,Rubella/ campak jerman).
Glutamat digunakan untuk menstabilkan beberapa vaksin panas, cahaya dan kondisi lingkungan lainnya. Bahan ini dikenal menyebabkan reaksi buruk dan ditemukan pada vaksin varicela.
Noemicin. Antibiotik ini digunakan untuk mencegah petumbuhan kuman didalam biakan vaksin. Bahan ini menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan ditemukan pada vaksin MMR dan Polio.
Fenol. Bahan yang berasal dari tar batubara ini digunakan di dalam produk bahan pewarna, desinfektan, plastic, bahan pengawet dan germisida. Bahan ini sangat beracun dan membahayakan.
Streptomisin. Antibiotika ini dikenal menimulkan reaksi alergi danditemukan pada vaksin polio.
Timerosal. Bahan ini adalah pengawet yang mengandung 50% etil merkuri yang mempunyaii banyak sifat yang sama dengan merkuri (air raksa) yang sangat beracun.
Sementara Persatuan Pemerhati Vaksin Australia juga adanya bahan lain dalam vaksin antara lain :
Amonium Sulfat diduga dapat meracuni sistem pencernaan, hati, syaraf dan sistem pernafasan.
Ampotericin B, sejenis obat yang digunakan untuk mencegah penyakit jamur. Efek sampingnya menyebabkan pembekuan darah, bentuk sel darah merah menjaditidak sempurna, masalah ginjal, kelesuan, demam dan alergi pada kulit.
Kasein, perekat yang kuat, sering digunakan untuk melekatkan label pada botol. Walaupunn dihasilkan dari susu, namun bahan ini dianggap protein asing yang beracun.
Polysorbate 20 dan Polysorbate 80, bahan yang meracuni kulit atau organ genital.

Hentikan Vaksin
Alhamdulillah suah cukup banyak  tenaga medis dan bidan yang telah menghentikan program pemberian imunisasi baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Bidan Emma misalnya, dia telah menghentikan program imunisasi di kliniknya dengna alasan tidak mau mendzolimi bayi dan masyarakat dengan memasukkan ragam barang haram ke tubuh mereka.

Jika kita telaah telah banyak jenis vaksin yang harus diterima tubuh ini, mulai dari bayi usia 0-1 minggu diberikan vaksin hepatitis ketika 2 jam kelahiran, 1 minggu -3 bulan diberikan vaksin BCG, DPT I – DPT V, hepatitis I – III, Polio I – IV, usia 1tahun vaksin campak, usia 1-3 tahun diberi  vaksin MMR (Measles/ campak, Mumps/ gondong,Rubella/ campak jerman), usia kelas VI SD diberi vaksin DPT VI. Sedangkan bagi dewasa diberlakukan vaksin anti kanker servik, vaksin TT (Tetanus Toxoid) untuk ibu hamil, vaksin meningitis untuk calon jamaah haji, vaksin rabies, vaksin pneumococcus, smallpox, influenza, demam tifoid, cacar air, hepatitis A dan lainnya.

Seperti yang di ungkapkan oleh dr. Rini Syafri, M.Si memberikan kesimpulan bahwa vaksinasi hanya menjadi mimpi buruk bagi dunia akibat berlakunya system sekuler. Bahkan kesadaran masyarakat AS dan negara Eropa seperti Perancis, Kanada, Inggris, dan Belanda telah membatalkan beberapa program vaksinasi.

***
Astagfirullah apa yang telah kita perbuat pada buah hati kita selama ini. Bagi para orang tua yang telah terlanjur membiarkan anak-anak mereka mendapatkan imunisasi sebelum terlambat mari kita hentikan gerakan ini. Kalau bukan kita sebagai orang tua siapa lagi yang akan menjaga buah hati kita dari tangan-tangan kotor kaum Yahudi. Dan bahkan kita nanti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta,ala tentang keturunan kita. Jangan sampai kita terperosok ke jalan yang dapat menjerumuskan kita pada siksa Nya. Mari kita segera bertobat atas apayang telah kita perbuat pada buah hati kita.

Fakta lain telah banyak yang menyatakan bahwa anak-anak tanpa imunisasi  ternyata memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan kecerdasan yang lebih baik pula. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al-Quran Surat At-Tiin ayat 4 : “Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Manusia merupakan makhluk unik yang dilengkapi system kekebalan alami yang berpotensi melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya. Jika manusia menjalani  hidupnya sesuai petunjuk syariat yang berupa perintah dab larangan, insya Allah kesehatannya terjaga dengan baik. Tuntunan Islam dalamm masalah kesehatan jasmani dan rohani sudah sangat jelas dan tidak ada sedikitpun yang diragukan. Islam telah merawat dan mendidik umatnya untuk merawat dan meningkatkan kesehatannya (antibodi) dengan menkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayyib, sekaligus melarang makan dan minum barang yang diharamkan, kotor dan najis.

Kutipan sinopsis ini saya tulis dan saya sebarkan kepada semua rekan agar kita tahu dan tidak ragu lagi untukmenghentikan gerakan imunisasi kepada buah hati kita. Dan saya memohon kepada Allah Ta,ala agar kita semua dibukakan hidayah untuk selalu menerima jalan terbaik dan menjauhi hal-hal yang mungkar. Dan semoga rekan-rekan sekalin mau menerima dan mengerti akan berita ini. Mari saudaraku jangan ragu untuk mengatakan “tidak” dengan imunisasi.  WALLAHU A’LAM