Subscribe:

Ads 468x60px

Pages

Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Agustus 2011

Kamu Makin Cantik Kalau Marah

Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya!" Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri atau ia tengah berdusta. 8-)

Yang jelas kita perlu menikmati sa'at-sa'at bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi sa'at sa'at tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah,betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah.
Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : "Kamu makin cantik kalau marah, makin energik..." Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "Duh kekasih... bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ...." :toe:

Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka," saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya:) maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.

Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama'ah selain marah  ;)

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa.
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan,bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah pemanasan, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Bila teh yang disajinya tidak manis, sepedas apapun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah... OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini .....  :)

3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga!
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan pihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba-coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal cinta yang panas ini".

Kata ustadz saya: "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak." Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!  :siul:

4. Kalau marah jangan di depan anak anak!
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan bapak saya.

Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar (based on true story):
Ibu: "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu?!!!"
Bapak: "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda????!!!!
Anak: "Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya ini apa?"  ;D

Kita harus berani berkata: "Hentikan pertengkaran!" ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita???  :malu:

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat!
Pada setiap tahiyyat kita berkata: "Assalaa-mu'alaynaa wa 'alaa'ibaadilahissholiihiin" Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yang sholeh.... Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustaiNya, padahal nyawamu ditangan Nya.

OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ..... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya... Atau habis isya sebatas....???
Nnngg.......Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar .. ^-^  :malu:

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan
Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran (resensi sebuah film). Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah "proses belajar untuk mencintai lebih intens". Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.  :bungain:

Ini saja, semoga bermanfa'at.
"Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi".
Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar.

Perjanjian yang sangat berat


Allah menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghaliza, perjanjian yang sangat berat. Hanya 3 kali istilah ini dipergunakan dalam Al-Quran, yakni untuk menyebut perjanjian Allah dengan bani Israil, yang untuk itu Allah mengangkat bukit Thursina serta perjanjian Allah dengan Ulul Azmi, Nabi-nabi pilihan di antara para Nabi. Begitu beratnya perjanjian, sehingga Nabi mewasiatkan kepada kita di saat-saat terakhir hidupnya agar memperhatikan amanah ini.

Rasulullah saw berpesan pada Khutbah Haji Wada’ : “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Hak kalian atas mereka ialah mereka para istri tidak boleh mengizinkan orang yang tidak kalian senangi masuk ke rumah kecuali dengan izin kalian. Terlarang bagi mereka melakukan kekejian. Jika mereka melakukan kekejian bolehlah kalian menahan mereka dan menjauhi tempat tidur mereka serta memukul mereka dengan pukulan yang tidak melukai mereka. Jika mereka taat, maka kewajiban kalian adalah menjamin rezeki dan pakaian mereka sebaik-baiknya. Ketahuilah! Kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik.”

Mari kita ingat baik-baik pesan terakhir Rasulullah untuk selalu BERBUAT BAIK. Kita memperlakukan mereka dengan tutur kata dan sikap yang baik. Jangankan dalam berperilaku, untuk berbicara dengan istri kita saja, Allah mengingatkan agar berbicara dengan Qaulan Ma’rufa (Perkataan yang Baik). Perkataan yang baik itu kita kemukakan juga dengan cara yang baik, sehingga tidak ada perselisihan di antara kita. Sesungguhnya setan menyukai perselisihan serta Allah menuntun kita kepada kedamaian dan kebaikan.

Lalu bagaimanakah cara berbicara yang baik dan dengan isi yang baik pula? Bagaimana pulakah caranya berbicara dengan Qaulan Ma’rufa sekaligus dengan cara yang ahsan? Wallahu’alam bisshowab.

Tapi marilah kita simak sepenggal kehidupan rumah tangga Rasulullah saw dengan Aisyah ra. Dari yang paling kecil, Rasulullah saw biasa memanggil istrinya dengan sebutan-sebutan yang romantis, “Wahai yang pipinya merah jambu...”. Terkadang beliau memanggil istrinya dengan sebutan manja, “Yaa Aisy...” atau panggilan, “Ummu Abdullah...” yang membuat Aisyah lebih percaya diri. Rasulullah saw pun terkadang memanggilnya dengan nama lengkap, tetapi tidak pernah menyebut dengan cara yang kasar dan membuat istri merasa tidak dihargai. Perlakuan yang sangat baik itulah yang menyebabkan seorang Aisyah, tidak dapat menahan haru ketika ditanya tentang perilaku Rasulullah saw yang paling berkesan baginya. Aisyah ketika itu hanya dapat menangis, menahan air matanya lalu berkata, “Kanaa qullu amrihi ‘ajabaa...(Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku...)”

Kemudian beliau bercerita sambil menahan tangis haru, “Suatu ketika, dia berbaring bersamaku, sehingga kulitnya bersentuhan denganku. Lalu dia berkata,” Ya, Aisyah. Izinkanlah aku menyembah Tuhanku.” Maka aku berkata, “Demi Allah sesungguhnya aku senang sekali berada di sisimu. Tapi aku juga senang, bila engkau menyembah Tuhanmu.”

Subhanallah, untuk melakukan sholat malam saja, Rasulullah minta izin dari istrinya. Itu bukan berarti untuk sholat atau ibadah-ibadah yang lain kita harus memperoleh surat izin dari istri. Tidak! Tetapi itulah penghormatan yang sangat agung dari seorang suami yang sangat agung akhlaknya dan sangat luhur penghormatannya kepada istri tercinta, Aisyah. Di dalamnya berhimpun kemesraan, kesetiaan, kelembutan, kasih sayang dan penghormatan yang sangat.

Inilah Nabi yang kelembutan akhlaknya mengalahkan kemarahannya. Dialah laki-laki yang ketegasannya membuat para sahabat tidak berani memelintir hukum. Yang keberaniannya membuat para musuh surut langkahnya. Dan kehalusan kata-katanya meluluhkan jiwa. Dia lembut kepada anak cucunya. Dia juga amat lembut kepada para istrinya. Dialah yang menjahit sendiri pakaiannya, dialah yang memerah sendiri susu dari dombanya, yang bahkan untuk sholat malam pun harus meminta perkenan istrinya.
Beliau pernah berkata, “Tidak memuliakan wanita, kecuali laki-laki yang mulia. Dan tidak merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah juga.”

Maka, lihatlah diri kita, laki-laki seperti apakah kita? Termasuk laki-laki macam apakah kita untuk istri kita? Jika sehari-hari kita masih menjadikan istri, sebagai mesin yang tidak pernah kita sapa ruang jiwanya. Agaknya kita masih termasuk golongan orang-orang yang rendah derajatnya. Alangkah sering kita memperlakukan istri seakan-akan mereka tidak punya perasaan, tidak punya pemikiran dan bahkan tidak punya jiwa. Kita menyapa istri hanya jika kita perlu. Selebihnya, tidak ada ucapan terima kasih apalagi permintaan maaf.

Kita hanya tergolong laki-laki yang mulia, apabila kita tahu bagaimana menghargai perasaan dan pikiran istri kita. Kita akan termasuk laki-laki yang mulia, apabila kita tahu bagaimana menyapa jiwa mereka. Sehingga jiwa mereka tumbuh dengan baik dan bukan kering kerontang, gersang penuh dengan penderitaan batin. Kita beri mereka perhatian yang hangat sehingga mereka senantiasa merasa dekat. Hati mereka bertaut dengan kesetiaan, ketulusan, kasih sayang, perhatian dan kesediaan untuk saling mengingatkan.

Akan tetapi sulit bagi kita lemah lembut, bila hati kita belum jernih dalam memandang pasangan. Sebaik apapun dia, bila kita sibuk menuntut, yang tampak hanya keburukan. Tetapi semuanya akan terasa kecil bila kita menerima dia apa adanya. Istri akan menjadi yang tercantik di hati kita, bila kita memaafkan kesalahannya dan menerima kekurangannya. Sebaliknya, istri yang biasa berhias dengan hiasan yang paling menarik sekalipun, tak akan menimbulkan kesejukan. Apabila kita masih sibuk membandingkan dia dengan orang lain atau membandingkan dia dengan angan-angan kita sendiri tentang istri yang sempurna. Begitu pun bagi seorang istri. Suami yang paling setia dan penuh perhatian pun akan menyebalkan jika kita sibuk bertanya, “kenapa dia tidak seperti suami sahabatku?”
Rasulullah saw pernah mengingatkan, “Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak pandai berterima kasih kepada manusia.” Kalau ingin dada kita lebih lapang dan hati bisa lebih mensyukuri keadaan pasangan, belajarlah untuk berterima kasih kepadanya. Cobalah untuk lebih sering bertanya, kepada diri sendiri, sudahkah kita berterima kasih atas kebaikan-kebaikannya selama ini? Jika itu masih sulit kita lakukan, mari kita belajar, untuk menyadari betapa banyak kebaikan yang ada padanya.

Sadarilah, bahwa segelas minuman tidak akan hadir ke hadapanmu, kalau tidak ada perhatian dan cinta kepadamu. Lalu kenapa engkau menganggap peristiwa hadirnya segelas minuman sebagai hal yang biasa-biasa saja? Kenapa engkau tidak mampu merasakannya sebagai isyarat cinta yang hadir dalam bentuk kesediaan melayanimu?

Barangkali, yang membuat kita sulit merasakannya, adalah karena kita sendiri jarang menyadari bahwa kita memiliki banyak kekurangan. Andaikan ia tidak memaafkanmu, bagaimanakah kita mempertanggungjawabkan diri di hadapan Allah. Karenanya sekali waktu, cobalah berlapang dada meminta maaf atas segala kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Juga atas kekurangan-kekurangan yang belum bisa kita perbaiki saat ini. Jika kita mengikhlaskan hati meminta maaf, kita akan tahu bahwa kita masih perlu memperbaiki diri. Membuat kita akan lebih rendah hati dan menerimanya sepenuh hati.

Wallahu’alam bisshowab.

Wassalamu’alaikum wr.wb.