Subscribe:

Ads 468x60px

Pages

Tampilkan postingan dengan label Smart Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Smart Parenting. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

Ayah Bunda… anak-anak butuh waktu kita untuk berinteraksi dengan mereka..

Ini kisah nyata dari seorang teman di Facebook, semoga kita bisa ambil hikmahnya. Untuk siapapun, yang sudah atau akan menjadi orang tua....

[ buat pengalaman untuk kita semua khususnya yg sudah mjdi orangtua]

info anak hilang

MENINGGALKAN RUMAH SEJAK TADI MALAM
BAGI YANG MENEMUKAN BISA HUBUNGI

PUTRI ISNA FATIN LABIBA ( PUPUT)
*USIA 9 THN.
*TB -/+ 110
*BB 16kg.
*Membawa tas ransel ungu
* Sendal coklat new era.


ini kisah nyata, terjadi pada keponakanku sendiri a.k.a puput

Awal cerita kamis sore si puput pulang sekolah.... g lama kemudian papanya nyuruh mandi.

tp sampai menjelang magrib puput ga mandi juga. Alhasil puput dimarahin sm papanya.

papanya bilang : de...kamu udah besar. masak mandi aja harus disuruhh???

setelah magrib... mamanya seperti biasa ngajar ngaji di komplek sebelah. Pulangnya sktar jam 8

terkadang puput ikut...kalaupun g ikut dia ikut taklim dideket rumahnya, setelah itu pulang k rumah (dirumah dg papanya & kknya ( 1 smp))

papanya terkadang harus dinas malam. kalo lg dinas malem, papany berangkat 15 menit menjelang mamanya pulang.

saat kejadian kebetulan papanya dinas malam. seperti biasa sblm berangkat telfon mamanya dulu, kebetulan saat itu sang mama sdh dalam perjalanan pulang

dari sinilah awal ceritanya....
sampai dirumah mamanya g ngeliat puput

abangnya belajar di kamar belakang.

betapa kagetnya sang mama pas liat kamarnya puput dg lemari baju yg setengah melompong
+ surat yang ditemukan abangnya.....

" mama.....
dede mai pergi aja
dede males dirumah
mama & papa sibuk kerja
dede kesepian.....
dede bete ma....."

*adohhhh air mataku brebes....*

papany baru saja berangkat. tanya tetangga ga ada yg liat puput main (puput & abangnya emang g boleh keluar malem kecuali ngaji)

menangislah sang mama (kakakku)

telp suaminya suruh pulang lagi......

pasukan dikerahkan cari sana cari sini

sampe kk iparku bawa pasukanny ke pasar untuk myari puput + ngasih tau kalo ada anak kecil dg ciri2 kaya puput hubungi si A. ...

lucunya pas pasukan kk iparku dateng dikira FPi mau ngerusuh wkwkwkw

malem itu juga puput ditemuin sama tukang ngamen

pngamen : de.... rumahnya dimana? nama ortu siapa?

puput : aku yatim piatu, g punya ortu & g punya rumah

(gubrak..... bisa2nya ni anak ngaku yatim piatu + g py rumah)

sama tukang ngamen yg baik itu si puput diajak k tempat ngetem angkot

salah satu supir angkot itu mau nganter puput plg. tp dia tutp mulut ttg alamat rumahnya.

akhirnya krn udah malam dibawalah puput ke rumah supir angkot tadi

setelah nginep semalem dirumah supir angkot besoknya puput ditanya lagi

puput rumahnya dimana?

jwabanmya sama aku g punya rumah & yatim piatu :((

supir angkot tadi baikkkkkmm banget....

malah salah satu anaknya (sudah nikah tp blm py anak) pgn puput jd anak angkatnya

supir angkotnya ga percaya kalo puput yatim piatu n ga punya rumah.

dia lihat dari penampilan si puput

tasnya bagus, bajuny bagus jg

paginya puput diajak jalan2 naik angkot...

diajak ke pasar sambil beli mainan

disitulah sang sopir cerita dia nemu anak

salah satu orang pasar ingat kalo semalem ada pasukan berjubah nyari anak hilang

ada yg kenal sama papanya puput jg

tapi nih anak ngeyel ga mau pulang. akhriny nginap lg di rumah supir amgkot td dan baru dianter td pagi...


Skrng Lg sms an sama puput.. Td dia bilang mau kerumahku. Tp g jd

iseng2 nanya : de, enak g jadi anak ilang?

Enaklah... 2 hari berturut-turut aku diajak jalan2, makan2, shopping, nonton inbox di BTC, masuk tv lg. Kalo sama mama jalan2ny kan sebulan sekali doang. Kalo kemaren aku tiap hari wkwkwk *ngakakguling2*

dasar anak kecil...

(http://www.facebook.com/rikaafwaja)

Banyak sekali orang tua bertanya mengenai pemenuhan kebutuhan waktu dengan anak. Mana yang lebih penting, kuantitas atau kualitas waktu?

Dua-duanya penting!

Komponen yangterpenting dari kualitas waktu adalah perhatian penuh dari anda. Faktor kedua adalah aktifitas yang anda lakukan bersama. Walaupun seorang ibu rumah tangga tinggal di rumah sepanjang hari namun jika pikirannya tidak tertuju pada anak, tidak akan banyak membantu perkembangan anak.

Ibu-ibu yang bekerja sepanjang hari, sehingga hanya meluangkan waktu sedikit untuk anak, juga akan kehilangan banyak momen penting dalam kehidupan anak.

Saranuntuk orang tua bekerja: Sebisa mungkin jagalah keseimbangan antara waktu untuk anak,waktu bekerja dan waktu untuk hal-hal lainnya. Untuk hal ini, kata kuncinya adalah: Evaluasi prioritas hidup anda.

Jika anda termasuk orang tua yang menempatkan anak sebagai salah satuprioritas utama dan terutama, maka anda pasti setuju bahwa kualitas seorang anak sangat ditentukan oleh kualitas pengasuhan orang tua.

Semakin tinggi kualitas yang anda harapkan,semakin tinggi pula tuntutan waktu dan perhatian untuk mencapainya. Sebagai contoh nyatahampir semua olahragawan kelas dunia (world champion)memiliki orang tua (salah satu ataukeduanya) yang mengabdikan dirinya bagi perkembangan prestasi sang juara secara penuh waktu (fulltime).

Jumat, 09 September 2011

Anak faham mengenai Halal ? harus donk...

Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai ketika/setelah anak berada pada usia sekolah, tidaklah tepat. Banyak perbedaan pendapat tentang kapan pendidikan harus diberikan. Bisa sejak masih kecil, semenjak bayi, ketika dalam kandungan, bahkan pada saat konsepsi. Akan tetapi patut diyakini, bahwa perkembangan kapasitas intelektual anak sudah terjadi pada saat bayi dalam kandungan.

Para ahli neurologi berpendapat, bahwa selama 9 bulan dalam kandungan, paling tidak setiap menit dalam pertumbuhan otak diproduksi 250.000 sel otak. Sehingga selama usia 8 bulan dalam kandungan, diperkirakan bayi memiliki biliunan sel syaraf dalam otaknya. Sel-sel otak ini dibentuk berdasarkan stimulasi dari luar otak. Stimulasi yang diberikan akan membentuk sel-sel otak sehingga otak dapat berkembang optimal. 

Anak menyerap semua rangsangan yang diberikan oleh lingkungannya (orang tuanya). Dan ternyata, awal kehidupan anak merupakan saat yang paling penting. Pasalnya, pada saat itu kapasitas intelektual anak berkembang sangat pesat. Otak anak mampu menampung informasi dengan kecepatan yang mengagumkan. Menjelang usia empat tahun, lima puluh persen kapasitas intelektual anak sudah terbentuk. Ini berarti, jika pada usia tersebut anak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka potensi otak anak akan berkembang secara maksimal. Oleh karena itu, pada masa-masa ini jangan sampai terlewati, orang tua harus senantiasa memberikan pendidikan sebaik-baiknya, karena stimulasi yang diberikan pada masa kritis ini akan terekam dan terbawa sepanjang kehidupan anak. Masa kritis ini hanya terjadi sekali dan tidak pernah terulang lagi.

Oleh karena itu, bagi ibu yang sedang mengandung, selain harus memberikan stimulasi juga memerlukan nutrisi yang baik bagi kesehatan dirinya dan bayi yang dikandungnya. Nutrisi yang baik tentu harus memiliki kandungan gizi yang cukup sehingga dapat membantu perkembangan sel otak janin agar bayi memiliki tingkat potensi kecerdasan yang tinggi dan terlahir sehat nantinya. Nutrisi yang baik haruslah juga menuntut kehalalan produk suatu makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Kebiasaan mengkonsumsi makanan halal pada saat ibu mengandung merupakan sebuah pendidikan bagi anak yang dikandungnya. Sehingga anak menjadi terbiasa menerima sesuatu yang baik dan benar dari kehalalan asupan makanan.

Tentu semua orang tua mendambakan anaknya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang cerdas, berprestasi dan bermoral. Anak yang cerdas belum tentu tumbuh dan berkembang menjadi anak yang berprestasi, dan anak yang cerdas dan berprestasi belum tentu tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bermoral jika tidak dididik dengan baik dan benar. Maka, hendaklah para orang tua untuk tidak melerwakan masa ini, berikan pengasuhan dan pendidikan sebaik-baiknya kepada anak-anak. Pendidikan amatlah penting, dan pendidikan pembiasaan harus dikembangkan sejak usia dini. Kenalkan anak pada hal-hal yang baik. Pembiasaan akan membentuk moral anak untuk bisa memilah mana yang baik dan tidak baik. Dalam hal makananpun akan demikian halnya. Mana yang halal dan tidak, mana yang boleh dikonsumsi dan tidak diperbolehkan.


Anak suka memakan apa saja, untuk itulah orang tua harus memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi anaknya haruslah mengandung asupan gizi yang dibutuhkan tubuh sehingga dapat berfungsi secara normal. Makanan tidak mesti yang mewah dan mahal, tetapi makanan itu pastikan sehat dan halal. Ajari sejak dini anak-anak untuk makan makanan yang sehat dan halal. Islam sangat menganjurkan memakan makanan yang halal dan baik (Q.S. 5:88 dan 16:114). Dan banyak sekali ayat al-Quran yang menjelaskan tentang makanan dan jenisnya yang dibolehkan dan yang tidak. Oleh karena itu, perkenalkan anak sejak dini pada produk-produk makanan yang halal, baik dan boleh dimakan. Meski anak belum bisa membaca, perlihatkan label halal yang ada di setiap kemasan makanan yang dibeli. Biasakan untuk menunjukkannya ketika memilih makanan di supermarket, di toko, atau ketika di dapur, sehingga anak familiar dengan gambar atau label halal yang tertera di kemasannya. Biarkan hal ini menjadi moral/budaya bagi anak pada saat memilih dan membeli makanan, bahwa yang baik di makan adalah yang berlabel halal. 

Upaya sosialisasi produk halal ini bisa juga diberikan pada saat anak sudah mulai sekolah. Sangat baik kiranya bila di Taman Kanak-Kanak (TK), RA (Raudlatul Athfal), di Kelompok Bermain (KB), di Tempat Penitipan Anak (TPA), di Posyandu (sekarang ada Pos PAUD) dan juga di Bina Keluarga Balita (BKB) untuk memasukkan menu pembelajaran mengenai produk makanan yang halal, sehingga ada kesinambungan antara pendidikan di rumah dengan pendidikan di sekolah. Pos PAUD dan BKB yang merupakan pembinaan tumbuh kembang balita dapat dijadikan tempat untuk mengawali sosialisasi ke-halal-an makanan kepada anak-anak.
Sebaiknya, para orang tua wali murid juga mendapatkan informasi produk halal, sehingga budaya memilih makanan yang halal tidak hanya dipunyai oleh anak-anak, tetapi agar dirumah nantinya para orang tua juga harus memiliki budaya mengkonsumsi makanan halal tersebut dan memberlakukannya pada anak-anaknya. Meskipun mengenalkan dan membudayakan produk halal ini tidak bisa spontan dan serta-merta sifatnya, karena terlanjur budaya di lingkungan kita untuk membeli dan mengkonsumsi apa saja tanpa melihat label halal yang tercantum pada produk. Pembiasaan mengonsumsi makanan yang halal akan lebih mudah dilakukan bila dimulai dari saat anak berada pada usia dini.

Sosialisasi halal untuk anak usia dini dapat dilakukan dengan mengenalkan makanan dan minuman yang halal dan yang haram untuk dikonsumsi melalui cerita yang menarik. Banyak buku yang beredar di toko buku mengenai pendidikan halal untuk anak yang dikemas dengan cerita yang menarik yang dapat dijadikan pegangan oleh orang tua untuk mengajarkan makanan halal kepada anak.