Subscribe:

Ads 468x60px

Pages

Kamis, 22 Desember 2011

Bunda, Dampingi Anakmu Di Masa Emas Mereka


Para ahli psikologi anak bilang: lima tahun pertama adalah masa emas bagi seorang anak.
Tahun-tahun emas. Ibuku selalu mengingatkan aku dulu ketika mereka (putra-putriku) masih kecil: Masa kecil mereka tak terulang dua kali.
Benar sekali. Waktu yang pergi tak akan kembali, masa kecil yang berlalu tak mungkin diulang.
Seberapa pentingnya-kah masa emas ini?
Sesudah si kecil menghirup udara kotor dunia pada detik-detik pertama hidupnya, sejak saat itulah ia mulai belajar dari pahit getirnya dunia.
Tarikan nafas pertama memperkenalkannya dengan kebutuhan dasar. Bernafas.
Para pakar menganjurkan pada detik-detik pertama tersebut si kecil segera diperkenalkan pada bundanya. Maka bayi merah yang bahkan masih licin tersebutpun diletakkan di atas dada bunda yang sedang sumringah bahagia. Tatapan pertama antara keduanya.
Apa yang kau lihat pada dirinya wahai bunda?
Banggakah dikau? Kecewakah? Kebencian kah? Sadarlah bunda, kesan pertama ini seringkali mewarnai sikapmu padanya dan akan berbalas dengan sikapnya padamu….
Apapun juga, ukirlah rasa syukur dalam dadamu pada menit-menit pertama ini.
Syukur karena masa kritis sudah berlalu bagi kalian dan syukur karena Dia telah Menghadiahkanmu amanah baru ini. Bangga karena engkau telah diberi kepercayaan olehNya. Tutuplah syukurmu dengan doa harapan untuk masa depan kalian.
Bersyukurah niscaya Allah Akan Menambahkan NikmatNya padamu.
Hari-hari berikut tetap penting baginya. Senyum pertamanya, sakit pertamanya, ocehan pertamanya, makanan pertamanya, jatuh pertamanya, langkah pertamanya, semua yang pertama baginya. Baik dan buruk, senang dan susah.
Tahukah dikau bunda bahwa semua pengalamannya akan ia rujuk padamu? Apakah engkau senang jika ia mengigitmu (ketika menyusuinya). Ia akan menatapmu untuk mencari tau apa reaksimu. Apakah engkau senang jika ia mempermainkan kucing? Ia akan menunggu reaksimu. Apa pendapatmu jika ia naik tangga? Engkaulah rujukan pertamanya….dan bagimana engkau menterjemahkan padanya dunia ini. Apakah dunia ini tempat penuh optimisme, atau keluh kesah? Apakah dunia ini berbahaya atau penuh tantangan?
Ia akan mencarimu ketika ia jatuh dan luka. Tangisannya keras sekali demi menarik perhatianmu segera. Dan ketika engkau akhirnya datang juga menghibur dirinya dan mengobati lukanya, ia akan senantiasa mengingat bagaimana reaksimu melihat penderitaannya. Apakah engkau menyalahkan, atau berempati?
Bunda, semua itu menjadi rujukan baginya untuk bersikap terhadap dunia dan segala isinya.
Engkaulah guru pertamanya in a true sense!
Mungkin engkau tidak sadar seberapa besar peranmu bagi kepribadiannya. Karena engkau sibuk mencuci, menyetrika, memasak….dan seribu satu pekerjaan rumah lainnya. Maka kau sikapi anakmu dengan seadanya. Jika sempat kau tanggapi dengan senyum optimis, jika tidak maka kau malah bentak dia ketika bermain dengan piring yang sedang kau cuci. Astaghfirullah, betapa beratnya untuk selalu sadar peran, disaat tugas menumpuk, badan penat, kepala berat, sejuta lagi alasan.
Bunda, itu sebabnya kita perlu selalu bertaubat (Istighfar), sebab terlalu banyak saat kita tidak memenuhi pnggilan tugas dengan semestinya. Tugas seorang ibu, pendidik generasi yang akan datang, tugas yang harus dijalankan 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tanpa cuti.
Bagaimana pula kau tanggapi protesnya ketika kau akan meninggalkan dia? Kantor sudah menunggu, boss bukan orang yang murah hati, sementara si kecil rewel “tanpa alasan”.
Benarkah jika ia tidak sakit maka ia tak boleh protes ketika kau akan pergi? Apakah itu “tanpa alasan”? Ia punya sejuta alasan untuk memintamu tetap mendampinginya…Kita punya seribu alasan untuk boleh meninggalkannya. Kita memang harus punya alasan yang TEPAT untuk meninggalkan balita kita.
Ketika kau pergi, dengan siapakah ia kau titipkan? Baby sitter? Nenek –kakek? Bibi atau tempat penitipan anak?
Apapun pilihanmu, bertanggung-jawablah. Artinya, ajukanlah seribu pertanyaan mengapa engkau meninggalkannya, kepada siapa dan dengan persiapan apa. Tanyakan itu semua pada dirimu sendiri dan jawablah untuk dirimu sendiri. Janganlah engkau meninggalkannya hanya karena “sayang karirku jika berhenti sekarang”, atau “sayang dong otakku jika aku hanya tinggal di rumah”, atau “aku kan butuh aktualisasi diri”.
Ingatlah pesan ibuku puluhan tahun lalu: “masa kecil mereka hanya sekali”.
Aku ingat pesan itu hari ini, duapuluhan tahun setelah itu. Saat aku menikahkan anakku dengan pria pilihan hatinya, terbayang masa kecilnya dan pertanyaan di kepala: apakah aku sudah mendidiknya dengan benar sehingga ia sudah bisa meninggalkan rumah ini untuk menjalani penghidupannya sendiri. Sudah cukupkah bekal yang kuberikan padanya untuk menghadapi hidup?
Hari demi hari berlalu, masa kecilnya semakin jauh dibelakang. Hari demi hari berlalu kita semakin sadar betapa banyak yang belum kita lakukan untuknya. Tapi waktu tak pernah menunggu, tugas terus bertumpuk dan badan tak bertambah gesit.
Sampai datang masanya kita terhentak dan tersadar betapa cepatnya waktu telah berganti.
Bersiaplah untuk di evaluasi olehnya, puluhan tahun setelah hari pertamanya bersamamu, atas segala perlakuan yang telah engkau berikan padanya.
Puluhan tahun dari hari ini, ia bukan lagi makhluk kecil yang tak berdaya. Puluhan tahun setelah hari ini mungkin kitalah yang sudah tak berdaya dan berharap tidak ditinggalkan sendirian di rumah karena badan ini sudah renta.
Doa untuk orangtua: Ya Rabb kami ampunilah kami, dan ampunilah kedua orangtua kami, dan rahmatilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangi kami ketika masih kanak-kanak.
Apakah Dzat Yang Maha Agung akan mengampuni? Apakah Dia akan Menyayangi para orangtua? Lalu bagaimana jika saat sang putra masih kecil orangtuanya kurang sayang padanya? Akankah Allah juga akan mengurangi kasih sayangNya pada orangtua tersebut?
Alangkah beruntungnya orangtua yang anaknya cinta pada Allah, niscaya anak shaleh akan mendoakan ibu-bapaknya. Amin (SAN 18032009/eramuslim.com)

Yang Seharusnya Dilakukan Seorang Ibu


oleh : Siti Aisyah Nurmi
Ini cuma berbagi, bukan menggurui.
Sebagai seorang ibu yang ingin berbagi dan belajar dari para ibu di manapun.
Peran bunda selalu sama. Sejak buah hati dalam kandungan hingga buah hati siap mentas menghadapi dunia.
Bunda tak kenal jam kerja apalagi uzur dan cuti.
Bunda hanya istirahat ketika buah hati sudah tertidur atau pergi.
Bunda tak kenal insentif apalagi uang lelah, syukur jika masih ada apresiasi dengan kata-kata cinta atau terimakasih.
Apapun situasi, bagaimanapun kondisi di manapun lokasi, bunda siap melayani….
Sejak mulai hamil, bunda sudah mulai bertugas demi buah hatinya.
Pertama: Memelihara kesehatan diri secara umum, agar kehamilan menjadi lancar, buah hati tumbuh prima dalam kandungan. Makan makanan bergizi dalam jumlah yang cukup, padahal tidak jarang seorang wanita enggan makan saat hamil muda. Ngidam namanya. Makan apapun terasa pahit atau asam memualkan. Tapi seorang bunda bijaksana harus melawan keengganannya untuk memberi gizi yang baik bagi si kecil. Jika bunda gagal memelihara kesehatan dirinya di masa ini, buah hati mengalami resiko sepanjang hayat: cacat bawaan (na’udzubillah min dzalik). Begitulah bunda, dan para calon bunda: berjuanglah mengatasingidam-mu.
Kedua, bunda yang sedang hamil harus menjaga perasaannya dan menjaga agamanya, agar hatinya bersih selalu saat hamil, sehingga buah hatinya tak tercemar hasad dan dengki, atau tertular virus kekafiran dan kebodohan. Bunda harus menata hati dan perasaan agar hormon tubuhnya selalu prima, sehingga buah hatipun mendapatkan suasana yang prima dalam buaian pertamanya. Bunda yang rusuh hati saat hamil akan menciptakan suasana “rusuh” bagi buah hatinya dalam bentuk aliran hormon marah, takut atau benci yang bisa jadi akan terus membayangi si kecil setelah keluar dari kandungan. Hormon-hormon negatif tersebut sungguh merusak bukan hanya bagi bunda tapi juga bagi bayinya. Wahai para bapak atau calon bapak: Bantulah para bunda ini untuk menata hati dan pikirannya saat hamil. Demi lahirnya generasi muda yang optimal pribadinya. Jika para bapak tak peduli, maka cobalah renungi ini: Apakah anda ingin anak yang berkepribadian prima? Tahukah anda bahwa saat hormon-hormon negatif tersebut beredar di seluruh aliran darah bunda si kecilpun ikut terkena dampaknya? Tak jarang stress mental seorang calon ibu menyebabkannya keguguran. Ya keguguran! Kondisi stress kandungan sang ibu juga bisa mengganggu yang menyebabkan sang bayi (na’udzubillah) cacat…..Riskan memang. Hamil itu selalu beresiko. Setiap detik dalam masa sembilan bulan sepuluh hari merupakan momen pertumbuhan berharga bagi si bayi. Satu detik saja terganggu dapat menginterupsi pertumbuhannya, dan jika yang di-interupsi adalah momen perkembangan organ vital, maka organ tersebutlah yang cacat. Bahaya.
Ketiga, bunda yang sedang mengandung juga harus menyadari ia mempunyai keterbatasan gerak. Jika sebelumnya ia lincah dan senang berlari, memanjat atau menendang apa saja, maka saat hamil ia tidak boleh melakukan hal-hal tersebut. Sangat beresiko. Kekanglah hasratmu untuk hiking, atau racing dengan sepeda motor. Semua itu berbahaya bagi si kecil. Juga bunda harus sabar ketika menghadapi beratnya kandungan usia tua. Tidur menjadi tak nyenyak karena pinggang pegal, ingin rasanya meletakkan beban berat ini, tapi tak mungkin. Walau sejenakpun.
Keringat bercucuran meskipun ia hanya duduk menonton televisi. Rasa gerah tak berkesudahan, rasa sebah bagaikan makan sebakul tapi masih lapar…Ahhhh apalagi hendak dikata, sudah sejuta rasanya penderitaan ini. Namun semua bagaikan tak berarti manakala bunda merasakan tendangan si kecil dari dalam. Kadang si kecil dengan ngototnya tak mau pindah posisi ketika bunda pindah posisi. Maka bundapun tambah kelelahan. Senang, namun lelah. Bunda mengusap perutnya tanda sayang pada si kecil, dan si kecil membalas dengan tendangan kuat dari dalam, tanda senang disapa. Kadang ayah ikut bercanda dari luar, menggelitik si kecil lewat perut bundanya. Bunda jua yang harus menanggung canda itu. Jika sejak awal hamil sampai hamil tua sudah terasa berat bagi bunda, maka itu belum sampai puncaknya. Kelak diakhir kehamilan adalah puncaknya segala kesusahan itu. Wahnan ala wahnin….istilahnya dalam Al Qur’an: Kesulitan di atas kesulitan. Memang sulit.
Keempat adalah saat melahirkan itu sendiri. Sejak berjam-jam sebelum saatnya tiba sang ibu sudah didera sakit.Hilang-timbul-hilang-timbul. Itulah sakit melahirkan. Ini tugas penting yang sulit, sakit, dan banyak aturannya. Berbagai nasehat nenek, uak, mertua akan berdatangan dan kadang tambah membuat bingung. Semua karena cinta dan ingin berbagi pengalaman kepada calon ibu muda. Centi demi centimeter “pembukaan” jalan dikabarkan oleh bu bidan. Targetnya sekitar 10 cm, tapi proses dari 3 sampai 10 bisa berhari-hari. Kadang berlangsung cepat, tapi tak jarang lama atau lamaaaaa sekali. Tergantung takdirNya. Saat itu, lagi-lagi perasaan bunda amat berpengaruh. Makin tenang dan tawakkal, makin memudahkan yang menolong dan juga makin berhasil Insya Allah. Kelahiran dikendalikan oleh berbagai hormon yang kompleks sehingga jika perasaan kita kurang terkendali atau bahkan didominasi takut secara langsung dan tidak langsung juga mengganggu proses. Ingatlah bunda, perasaan yang tenang dan santai didasaritawakkal yang tinggi kepada Yang Maha Menolong adalah resep terbaik yang pernah diberikan oleh siapapun. Ingatlah bunda, apapun yang kau ketahui tentang berbagai penyulit kelahiran, maupun berbagai kelainan, semua itu ada di Tangan Allah. Dia Jua-lah Yang dapat Membereskannya. Pada momen-momen penting ini, setelah semua usaha baik yang dijalankan atas saran orang-orang yang kita cintai, maka tak ada lagi yang harus dipentingkan selain Tawakkal penuh kepada Allah SWT . Sang bunda akan merasakan bahwa siapapun tak berarti saat ini. Pada momen-momen taruhan nyawa, hanya Allah Raja Yang Maha Kuasa yang sebenarnya. Inilah jihad seorang wanita! Jihad yang membuat kita faham bahwa jihad adalah dalam rangka memberi kesempatan hidup bagi orang lain. Dalam momen ini kita fahami bahwa seorang bunda tak mungkin mundur dari perjuangan ini. Ini perjuangan yang tak mungkin kita ingin mundur. Maju atau mati! Harus lahir! Tak mungkin bunda tau siapapun membatalkan kelahiran ini. Maju terus, tak mungkin mundur.
Begitulah renungan bagian pertama ini kami akhiri. Seorang ibu adalah pejuang yang pantang mundur. Allah Telah Mentakdirkan mereka (atau kami) demikian. Takdir yang patut disyukuri karena posisi kemuliaan yang menyertainya. Sang bunda adalah manusia yang dihormati tiga kali lebih dahulu dari ayahanda yang menafkahi. Sang bunda yang di kakinya surga sang anak ditentukan….Adakah wanita yang sudah ditakdirkan menjadi bunda tapi tak mau kemuliaan ini? Jangan! Jangan ditolak dan jangan di sia-siakan kesempatan yang sudah diberikan Allah. Berjuta-juta wanita menginginkan namun belum juga ditakdirkan, sementara ada sebagian yang sudah ditakdirkan tapi tak mau menerimanya. Wahai bunda, anda adalah orang yang paling istimewa bagi anakmu. Jadilah yang terbaik baginya/ mereka. Kesuksesanmu ada pada penyerahanmu kepada Allah dalam setiap kesulitan. Amin. (SAN 10032009/eramuslim.com)

Senin, 12 Desember 2011

Gawat Darurat di Rumah Tangga : P3K pada Luka

Luka
Luka adalah terjadinya gangguan kontinuitas jaringan, sehingga terjadi pemisahan jaringan yang semula normal.
Penyebab luka ada empat jenis :
1. Trauma Mekanis, diakibatkan tergesek, terpotong, terpukul, ter-tusuk dan terjepit.
2. Trauma elektris akibat listrik atau petir.
3. Trauma termis akibat panas atau dingin.
4. Trauma kimia, disebabkan bahan kimia.
Penanganan luka dengan herba :
1. Luka Lecet : Bersihkan luka dengan air dan balurkan minyak Herba Jawi 99.
2. Luka memar : Kompres meng-gunakan batu es dan balurkan minyak Herba Jawi 99. Terapi herba menggunakan Gamalife dan Spirumadu Kids.
3. Luka iris : yang pendek dan dangkal, bersihkan dengan air. Balurkan minyak Herba Jawi 99.
4. Luka bakar : apabila luka terbakar dan kotor, maka lakukan tindakan disinfeksi sebagai berikut:
- Letakkan kassa streril di tengah luka (jangan ditekan).
- Kulit sekitar luka dibasuh dengan air, luka disiram air untuk membasuh darah dan kotoran yang terdapat di dalamnya.
- Kassa penutup luka diambil kembali, lalu balurkan minyak Herba Jawi 99 utk disinfektan.
- Setelah bersih bagian luka, balurkan kembali minyak Herba Jawi 99 dan kemudian tutup luka dengan kassa steril, kemudian dilapisi dengan kassa yang tebal dan lembut.

Penanganan terapi herba: Berikan Spirumadu Kids dan Gamalife.